RITUAL DAN UPACARA SUKU AKIT

Budaya Melayu Riau Asal Usul Suku Akit
Mengenai sejarah perkembangan Suku Akit bermula dari suku laut, jika dilihat dari asal muasal dari Suku Melayu Riau saat ini sama halnya dengan suku bangsa lainnya yang ada di Indonesia, yaitu berbagai percampuran genetika ras yang berasal dari pusat-pusat penyebaran di segala penjuru dunia. Menurut perkembangan sejarah suku asli Akit yang ada di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis khususnya di Desa Titi Akar dahulunya termasuk dari Siak Sri Indrapura yang termasuk kerajaan Melayu Riau. Kerajaan ini didirikan sekitar abad 17 oleh Raja Kecik yang digelari Sultan Siak yang berada di pinggir Sungai Siak. Kelompok ini mengungsi ke daerah lain atas permintaan suku tersebut pindah ke tempat yang lebih aman menuju ke Pulau Padang yang dibatasi oleh selat. Suku tersebut kembali melanjutkan perjalanan ke lautan yang luas yang ada dibagian utara kemudian kembali ke bagian barat disanalah suku tersebut berlabuh dan diterima oleh Datuk Empang Kelapahan. Sistem Kepercayaan Suku Akit Masyarakat Suku Akit dahulunya menganut kepercayaan animisme. Agama asli masyarakat Suku Akit percaya pada berbagai makhluk halus, roh, dan berbagai kekuatan gaib dalam alam semesta, khususnya dalam lingkungan kehidupan manusia yang mempunyai pengaruh terhadap kesejahteraan hidup mereka. Sebagai contoh, pada waktu tertentu sekali masyarakat Suku Akit tidak boleh melaut maupun menghidupkan api serta mematahkan kayu di hutan, hal itu diyakini dapat menimbulkan kesialan bagi mereka. Namun seiring perkembangan zaman dan masuknya pedagang China dalam kehidupan masyarakat Suku Akit, membuat perlahan-lahan masyarakat Suku Akit meninggalkan agama nenek moyangnya yang bersifat animisme. Masyarakat Akit umumnya beragama Budha dan harus ada patung Budha di depan rumah atau di ruang tamu atau di ruang tengah. tanda yang lain adalah digantungkannya kain merah di atas pintu depan atau lampion yang terbuat dari kertas atau balon berwarna merah. Penduduk Suku Akit mayoritas menganut agama Budha, sebagian kecil adalah Kristen dan Islam, masuknya agama Kristen dan Islam terjadi karena pernikahan. seiring kemajuan zaman, Suku Akit dibantu oleh pemuka agama Budha yang ada di kota bengkalis. 3.3 Berbagai Macam Ritual Dan Upacara Suku Akit Pada orang Akit upacara-upacara ritual dan upacara-upacara adat banyak saling kait mengait secara holistic. lni saling berhubungan dengan sisem budayanya seperti kepercayaan, mata pencaharian, organisasi sosial kemasyarakatan, kekerabatan, kesenian dan sebagainya. Kedekatan suku Akit dengan alam membuat upacara-upacara ritual dan upacara-upacara adat lainnya masih sangat erat terkait dengan alam dan lingkungan. lni tidak hanya dalam sistem kepercayaannya, tetapi juga tergambar dalam berbagai macam jenis upacara yang ada pada suku atau komunitas adat Akit. Secara umum upacara ritual yang ada pada masyarakatAkit adalah upacara yang berhubungan dengan sistem mata pencahariannya, yaitu di ladang dan di laut. Dalam upacara-upacara ini peran pawang sebagai orang yang ahli dalam bidang-bidang tertentu sangat panting. lni bisa juga tergambar dari pembagian pawang tersebut ke dalam dua kategori, yaitu pawang darat dan pawang laut. Dengan demikian upacara-upacara kekhususan mereka juga terkait dengan kewilayahn tersebut, yaitu darat dan laut. Upacara-upacara adat dan ritual tadi secara umum dibagi dua, barangkali sesuai dengan sistem mata pencaharian dan kehiduapan sosial mereka di laut dan di darat. Maka upacara juga terbagi dua kategori besar, yaitu darat dan laut. Upacara yang berhubungan dengan pertanian misalnya adalah upacara buang anca yang mempunyai beberapa tahapan. 3.3.1 Buang Anca Upacara buang anca sering juga disebut dengan upacara pawang. Upacara ini dikenal dalam kegiatan pertanian atau kegiatan berladang. Kegiatan ini berkaitan dengan kegiatan agar kegiatan berladang untuk menghasilkan hasil yang melimpah ruah. Oleh sebab itu biasanya dilakukan upacara dengan memberikan persembahan atau sesajian yang diberikan kepada roh-roh nenek moyang. lni berguna supaya kegiatan perladangan tersebut tidak dikacau musuh, seperti kera, babi hutan dan hama lainnya. Meskipun upacara ini terkait dengan sistem pertanian atau perladangan, namun upacara ini tidaklah sembarangan, artinya tidak dapat dilakukan dengan setengah hati, harus bersungguh-sungguh, karena kegiatan atau upacara ini bagi masyarakat sangat disakralkan. Sakral artinya karena kehidupan perladangan terkait dengan kehidupan manusia yang menggantungkan hidupnya bagi hasil ladang atau pertanian. Oleh sebab itu roh-roh yang terkait dengan perladangan ini sangat dihormati. 3.3.2. Badekeh Bedekeh atau berdukun juga digunaan untuk pengobatan penyakit. Pengobatan yang dilakukan untuk mengobati diri sendiri dan bedekeh untuk mengobati orang lain. Upah setelah berobat adalah asam garam. Jika penyakit berkurang dan-sembuh maka biasa diberikan asam garam, berupa kotak tepak yang berisi asam, garam, duit sepuluh sen (ringgit Malaysia). lni diberikan setelah penyakit sembuh. Biasanya pengobatan bisa memakan waktu yang lama, mencapai tiga bulam. Jika tidak diberikan asam garam, maka ketika si pasien sakit lagi, maka dia tidak bisa mengobati lagi. Oleh sebab itu merupakan persyaratan. 3.3.3. Bebedak Bebedak adalah kegiatan yang dilakukan oleh dukun untuk mempertajam ilmunya sendiri. Bebedak dilakukan dengan cara mandi di sungai atau laut. Mereka menggunakan nawar atau mantra atau jampi-jampi. Namun menawar ini juga sering digunakan untuk memikat perempuan bagi seorang laki-laki dengan membacakan mantra-mantra tertentu (pelet). 3.3.4. Nawar Nawar tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, ttapi juga dilakukan oleh perempun. 3.3.5. Pebayu Pebayu merupakan pendamping bomo sebagai mediator, yang menterjemahkan apa yang ia lihat dan apa yang ingin disampaikan borne kepada masyarakat yang terlibat dalam upacara tersebut. Bomo ada yang ilmu hitam dan ilmu putih. Bomo yang menabalkan adalah bomo yang lebih tinggi. Upacara penabalannya disebut nyusun bomo baru. Bomo ini sifatnya alami, artinya datang sendiri. Tidak semua orang bisa menjadi bomo, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menjadi bomo. Bagi suku Akit, peran bomo sangat penting, baik perannya dalam upacara pertanian dan di laut, juga bomo dianggap sebagai orang pintar, yang mengetahui banyak hal tentang manusia dan alam gaib. Oleh sebab itu dalam struktur masyarakat Akit, peran pentingnya dalam suku, bomo dapat diletakkan setelah kepala suku, Batin. 3.3.6. Sunat dan Tindik Sunat dilakukan dikumpulkan di suatu tempat, bisa dilakukan di rumah siapa saja. Sunat tradisional suku Akit biasanya dilakukan dengan menggunakan bambu (sembilu) atau kayu memale tapi sekarang sudah pakai pisau. Sunat ini berbeda dengan sunat yang dilakukan saat ini. Sunat ini dilakukan dengan hanya menjempit sedikit saja bagian kulit kemaluan laki-laki, sebagai persyaratan. Sunat mendarah, dan menentukan darah sukunya. Yang menentukan darah sukunya adalah walinya. Kalau belum sunat belum masuk suku. Dijepit dibatangnya. Kalau disunat harus mengelak kawin sumbang, dengan darah sejenis. Perempuan biasa juga ditindik. Sunat tidak boleh menangis. Setelah berdarah dibiarkan saja, dan diobati dengan obat tradisional. Biasanya dilakukan pada umur 7 tahun sampai sebelum 15 tahun {bujang tanggung). Juru sunat disebut dengan tukang sunat, dan di Titi Akar hanya ada 2 atau 3 orang saja. Bila tidak ada di kampong maka didatangkan dari desa lain. Orang Akit jika sudah sunat, jika anak-anak belum disebut sebagai orang akit. Kulup tidak kepotong. 3.3.7. Upacara Semah Laut Upacara Laut, semah laut, yaitu pembersihan kampung. Proses semah laut dari awal persiapan sampai selesai memakan waktu selama satu hari satu malam, kemudian besoknya pantang yang disebut dengan belo kampong. Pada saat ini pantang untuk daun-daun kayu tidak boleh dirusak, karena bela kampong atau jaga kampong, tidak boleh mencangkul. lni biasa dilakukan pada bulan April (sesuai dengan lmlek). Upacara makan beras baru adalah upacara setelah panen, dimulai ketika mau panen, diambil padi kemudian dimasak, makan bersama di satu tempat, maka selanjutnya dilakukan panen padi. Latar belakang Penyakit berjangkit, mewabah. lni bisa dilihat dari keadaan di masyarakat, misalnya secara umum terlalu banyak orang yang meninggal dunia, sehingga kejadian ini dianggap tidak biasa. Upacara ini diadakan di laut, yaitu pada lancang (perahu), di tali arus sembilan. Jadi sebelum lakukan upacara, maka terlebih dahulu harus dipersiapkan lancang tersebut. Di tempat inilah diyakini dewa laut tinggal. Upacara ini dipimpin oleh seorang bomo yang tingkat kemampuannya dapat dikategorikan kelas tinggi. Spesialisasi bomo ini dilihat dari tingginya ilmunya adalah dapat dilihat dari beberapa jenis dewa-dewa yang masuk ke dalam tubuhnya ketika dia kesurupan. Masuknya bermacam-macam dewa ini bisa dilihat dari seringnya bomo menggantikan pakaiannya, karena setiap dewa menurut suku Akit berbeda pakaiannya. Jadi seorang dukun tingginya dapat dilihat dari itu. Semah laut biasanya dilakukan oleh orang-orang yang berkepen-tingan dan harus berani dengan segala resiko, kematian. Mereka berangkat ke laut dengan menaiki lancang (perahu). 3.3.8. Upacara Belo Kampung Upacara Belo kampung merupakan runtutan dari upacara semah laut. Upacara semah laut yang dilaksanaan dalam kurun waktu sehari semalam, dilanjutkan dengan upacara bersih kampong atau belo kampong. Proses semah laut dari awal persiapan sampai selesai memakan waktu selama satu hari satu malam, kemudian besoknya pantang yang disebut dengan belo kampong. Pada saat ini pantang untuk daun-daun kayu tidak boleh dirusak, karena bela kampong atau jaga kampong, tidak boleh mencangkul. lni biasa dilakukan pada bulan empat (sesuai dengan lmlek), Desember pada penaggalan Masehi. Upacara ini biasanya dilakukan besar, karena menyangkut masyarakat banyak. Upacara seperti ini biasa disebut dengan Surau, yang berarti adalah paling besar biayanya, karena menggunakan orang banyak. Artinya surau sebagai pertanda upacara yang besar. Yaitu menara yang tinggi (mahligai) yang digunakan untuk upacara. Orang yang sakit akan memberikan sesajen atau upahnya kesurau. Surau bertiang empat, dan mahligai bertiang satu. Satu tiang, dan yang lainnya . menahan. 3.3.9. lmlek
Upacara lmlek merupakan upacara yang dikenal juga pada suku Akit. Upacara lmlek ini merupakan upacara yang berasal dari Agama Budha, yaitu agama yang dianut oleh masyarakat Tionghoa yang banyak bermukim di Rupat Utara. Namun dalam pelaksanaan upacara, terkadang susah dibedakan sebagai upacara suku Akit atau orang Tionghoa, karena ia menjadi milik mereka secara bersama. Biasa dilakukan pada bulan April Masehi. 3.3.10. Buka Ladang Upacara buka ladang adalah salah satu upacara ritual terkait dengan mata pencaharian pertanian pada orang Akit. Upacara buka ladang ini biasanya dilakukan pada bulan-bulan dimana masyarakat mulai berocok tanam padi di ladang. Upacara ini biasanya dilakukan sebelum membabat hutan untuk dijadikan sebagai lahan pertanian. Upacara ini pada jaman dahulu dipimpin juga oleh seorang pawang atau dukun. Namun kini karena sudah jarang lagi ditemukan pawang atau dukun yang khusus ahli dalam bidang buka ladang ini, maka masyarakat takut melaksanakannya, karena takut salah dan tidak sesuai dengan tata cara pelaksanaan tradisi buka ladang tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membuat Buket Bunga

Tips Mudah Pintar